Gerakan Peduli Lingkungan Pekayon

Foto 015
11 01-2016
Gerakan Peduli Lingkungan Pekayon

Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) adalah kelompok masyarakat yang mempunyai komitmen yang tinggi dalam upaya turut melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. GPL lahir tanggal 4 April 2003, dipelopori oleh MTIID (Majelis Ta’lim Ibu-ibu Darussalam) dan HIPPI (Himpunan Pemuda Pondok Pekayon Indah). GPL mempunyai visi untuk menciptakan Pondok Pekayon Indah menjadi lingkungan yang bersih, sehat, asri, harmoni dan lestari serta memberdayakan masyarakat dalam bidang pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Program GPL yang utama adalah pemberdayaan masyarakat, pemilahan dan pengomposan sampah, serta pembibitan/penghijauan. Beberapa Unit Pengembangan GPL sudah dibentuk yaitu: Unit Pengelolaan Kompos Kawasan, Unit Taman Bacaan, Unit Arisan GPL, Unit Buletin dan Unit GPL Kids. Saat ini GPL mempunyai 30 kader dan 70 relawan. GPL beroperasi di Bekasi dan Jakarta.
Masalah persampahan mutlak ditangani secara bersama-sama antara pemerintah, komunitas masyarakat/lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dan komitmen secara kolektif menuju perubahan sikap/perilaku dan etika yang berbudaya lingkungan. Langkah terpenting yang perlu dilakukan adalah pendekatan mengurangi sampah yang masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), dimana kunci keberhasilannya terletak dari upaya pengurangan sampah yang dimulai dari sumbernya.
GPL mengadakan pelatihan untuk para kadernya, agar mereka dapat membantu melakukan pemilahan sampah dan pengomposan sebagai bagian kehidupan sehari-hari masyarakat, dan mengembangkan gerakan penghijauan dan pembibitan tanaman. GPL melaksanakan kegiatannya dengan target sasaran dari berbagai kalangan masyarakat, seperti siswa sekolah/pelajar (terutama TK dan SD), anggota PKK (Program Kesejahteraan Keluarga), RT, RW dan organisasi keagamaan di komplek perumahan Pondok Pekayon Indah. Tahun 2007-2008, GPL ditunjuk sebagai Stakeholder PPK-IPM (Program Pendanaan Kompetisi – Indek Pembangunan Masyarakat) untuk Jawa Barat, dengan mengadakan kegiatan ToT (Training of Trainer) untuk 24 kader dan memandu kegiatan replikasi ke 4 kelurahan dengan jumlah peserta 100 orang.
GPL juga menggalakkan kembali kebun TOGA (Tanaman Obat Keluarga), pengomposan skala kawasan, dan meningkatkan produksi kerajinan dari limbah seperti plastik, botol, kertas dan kulit telur. Kelompok ini membudidayakan sayuran organik di lahan percontohan, dan yang terakhir GPL menerbitkan buletin setiap 2 bulan untuk menyebarkan informasi mengenai kegiatan yang akan dan sudah dilakukan kepada masyarakat. Hasil: Perumahan Pondok Pekayon Indah menjadi salah satu titik pantau penilaian program Adipura tingkat nasional karena dinilai telah secara proaktif melakukan kegiatan peningkatan lingkungan, khususnya proses pembuatan kompos kawasan dan penghijauan. Kapasitas produksi kompos minimum sebesar 2.000 kg/bulan dengan menggunakan bahan baku 6.000 kg sampah organik. Bahan baku yang digunakan berasal dari timbulan sampah 600 KK di 4 (empat) RW dengan laju timbulan sampah 1/3 kg/hari/KK.
Kegiatan pengelolaan sampah dan gerakan penghijauan yang telah dilakukan GPL menghasilkan berbagai penghargaan seperti Juara I Lomba Kreatifitas Daur Ulang Sampah yang diselenggarakan oleh KLH dan MNUPW pada Desember 2003, Penghargaan dalam bidang Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga dari Walikota Bekasi pada Desember 2004, Penghargaan sebagai Pelopor Peduli Lingkungan dari Walikota Bekasi Juni 2005, Juara II Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga Tingkat Provinsi Jabar dari Gubernur Jabar Juli 2005 dan Juara I Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga Tingkat Kota Bekasi Juli 2005.
Kegiatan semakin diperkuat dengan terlibatnya siswa sekolah, anggota PKK, serta warga RT dan RW, yang berkontribusi dalam menopang keberlanjutan kegiatan. Demikian juga dengan bertambah banyaknya kader yang mampu melakukan penyuluhan dan menularkan ke pihak lain. Perhatian dari pihak Pemerintah Kota Bekasi cukup besar terbukti dengan diberinya hibah seperangkat alat-alat/perlengkapan pengelolaan kompos serta kerajinan kepada GPL. Dana untuk menunjang kegiatan diperoleh dari kegiatan penyuluhan baik dari undangan dari pihak luar, maupun dari tamu yang datang berkunjung ke GPL. Selain itu, dana diperoleh juga melalui penjualan kompos, tanaman, dan kerajinan/suvenir yang dibuat seperti T-shirt, jam, tas, pin dan buletin GPL

Related article

  • Indonesia dan Australia Bikin Kolaborasi Kembangkan Smart City
    01 02-2018
    Indonesia dan Australia Berkaloborasi Mengembangkan Smart city, Serta Tingkatkan Pendidikan di Indonesia

    Pemerintah Indonesia dan Australia bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan University of Technologi Sydney (UTS) bekerja sama dalam mengembangkan smart city (kota pintar). Ide kota pintar ini akan diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat.

    Read more...
  • Duplikasi Jembatan Jatiwaringin Telah Diresmikan
    30 01-2018
    Duplikasi Jembatan Jatiwaringin Telah Diresmikan

    Pemerintah Kota (Pemkab) Bekasi meresmikan Jembatan duplikasi atau Flyover Jatiwaringin,  Kecamatan Pondok Gede, (senin 29/1). Dengan ditandatangani prasasti oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi maka duplikasi Jembatan Jatiwaringin sudah bisa digunakan oleh warga masyarakat.

    Read more...
  • Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemkab Bekasi Meningkat
    29 01-2018
    Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemkab Bekasi Meningkat

    Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi mendapat peningkatan kenaikan nilai dalam pengelolaan Kinerja Instansi Pemerintah (Sakip) Tahun 2017 dari Kemenpan RB Republik Indonesia. Kenaikan ini diperoleh sebagaimana hasil evaluasi yang dilakukan kemenpan RB RI dengan tim evaluator…

    Read more...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *