Faktor Manusia Lebih Dominan Dari Teknologi Dalam Wujudkan Kota Pintar

Seoul02
04 10-2016
Faktor Manusia Lebih Dominan Dari Teknologi Dalam Wujudkan Kota Pintar

Alat pintar dengan teknologi baru cenderung bermunculan untuk mengisi di berita utama, sementara itu pakar industri mendesak para pemimpin kota untuk lebih fokus dalam mewujudkan kota pintar dengan warganya, bukan hanya dengan teknologi. Baru-baru ini konferensi ke 16 diselenggarakan di Santa Clara, California. Dimana para pemimpin kota berkumpul membahas kota pintar.

Sebuah sentimen utama yang muncul dari konferensi itu adalah bahwa para pemimpin di pemerintahan dan industri perlu tetap fokus pada gambaran kota pintar yang lebih besar dan tidak terjebak dalam teknologi terbaru.

Secara khusus, perlu ada fokus yang lebih besar pada muncul teknologi baru dengan sistem ekonomi yang saat ini dapat mempengaruhi warga.

Platform kota pintar baru dan peralatan digunakan dalam upaya peningkatan pelayanan di mana semua diintegrasikan ke dalam infrastruktur kota.

Namun, pemimpin suatu kota sedang didesak untuk mengembangkan strategi untuk memenuhi kebutuhan warga..

“Kami hanya menempatkan keluar RFP pekan lalu yang memiliki kata-kata ‘desain user-centric,'” Kepala Ketahanan Officer untuk Kota Oakland

Kota perlu mengevaluasi strategi mereka dari strategi teknologi-sentris ke pengguna-sentris yang memerlukan penilaian yang realistis dari populasi kota yang benar-benar mendapatkan manfaat dari inovasi tersebut.

Para pemimpin lokal harus mengakui bahwa banyak inovasi kota pintar yang memberikan manfaat untuk menjadikan kota lebih baik untuk masyarakat. Sementara itu, warga negara berjuang dengan kemiskinan mungkin tidak melihat banyak manfaat sama sekali dari teknologi.

¬†“Banyak fokus kami telah bergerak diatas 20% dari pasar,” kata Kimberly Lewis, wakil presiden senior dari AS Green Building Council. “Kami pikir efek trickle-down benar-benar akan mulai mempengaruhi masyarakat berpenghasilan rendah dan moderat pendapatan.”

Dia mengatakan tantangan utama saat ini adalah asumsi bahwa setiap kota cerdas teknologi dampat membawa kemajuan secara otomatis pada suatu kota. Namun, itu menjadi jelas bahwa teknologi kota pintar bukan tongkat ajaib yang bisa melambaikan tangan untuk menghilangkan tantangan terus-menerus dihadapi oleh warga miskin. (Sumber : readwrite.com)

Related article

  • Indonesia dan Australia Bikin Kolaborasi Kembangkan Smart City
    01 02-2018
    Indonesia dan Australia Berkaloborasi Mengembangkan Smart city, Serta Tingkatkan Pendidikan di Indonesia

    Pemerintah Indonesia dan Australia bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan University of Technologi Sydney (UTS) bekerja sama dalam mengembangkan smart city (kota pintar). Ide kota pintar ini akan diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat.

    Read more...
  • Duplikasi Jembatan Jatiwaringin Telah Diresmikan
    30 01-2018
    Duplikasi Jembatan Jatiwaringin Telah Diresmikan

    Pemerintah Kota (Pemkab) Bekasi meresmikan Jembatan duplikasi atau Flyover Jatiwaringin,  Kecamatan Pondok Gede, (senin 29/1). Dengan ditandatangani prasasti oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi maka duplikasi Jembatan Jatiwaringin sudah bisa digunakan oleh warga masyarakat.

    Read more...
  • Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemkab Bekasi Meningkat
    29 01-2018
    Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemkab Bekasi Meningkat

    Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi mendapat peningkatan kenaikan nilai dalam pengelolaan Kinerja Instansi Pemerintah (Sakip) Tahun 2017 dari Kemenpan RB Republik Indonesia. Kenaikan ini diperoleh sebagaimana hasil evaluasi yang dilakukan kemenpan RB RI dengan tim evaluator…

    Read more...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *